Baca juga:
Hingga dini hari, tim gabungan dan keluarga korban belum juga menemukan keberadaan bocah malang tersebut.
Peristiwa tragis itu bermula sekira pukul 16.00 WITA, saat korban Rifki sedang mandi di pinggir sungai ditemani nenek dan tantenya yang sedang mencuci pakaian.
Seperti biasa selama musim kemarau, anak itu bermain air di tepian sungai yang tidak terlalu dalam. Namun nahas, sekira pukul 16.35 WITA, tiba-tiba seekor buaya muncul dari dalam air dan langsung menerkam tubuh Reski. Dalam sekejap, korban diseret ke tengah sungai dan menghilang dari pandangan keluarga.
Mendengar teriakan histeris dari pinggir sungai, warga sekitar segera bergegas mendatangi lokasi.
Hanya lima menit berselang, tepatnya pukul 16.40 WITA, posko TRC BPBD menerima laporan dan langsung melakukan assessment serta persiapan menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dua menit kemudian, tim tiba di lokasi dan memulai pencarian dengan menyisir sungai dari arah berbeda menggunakan perahu viber.
Tim Sar bersama warga saat Proses pencarian dilokasi kejadian
Koordinasi dengan Basarnas pun segera dilakukan dan tak lama kemudian, Basarnas Tampa Padang tiba lokasi untuk membantu proses SAR.
Sepanjang sore hingga larut malam, warga dan keluarga korban bahu-membahu melakukan pencarian. Mereka mengerahkan dua perahu milik warga dan mencoba menjerat buaya menggunakan jaring di beberapa titik, namun hingga tengah malam, upaya pencarian belum membuahkan hasil.
Tim TRC BPBD Mateng pun mengambil langkah lebih lanjut dengan menciptakan ombak buatan untuk mengusik sarang buaya di sekitar aliran sungai.
Koordinator Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBD Mateng, Rizky Ilhamsyah, saat dikonfirmasi mengatakan, tim TRC telah melakukan assessment secara menyeluruh dan meneruskan laporan kepada pimpinan serta lintas sektor terkait.
“Kami terus berupaya maksimal. Pencarian akan dilanjutkan hingga korban ditemukan, dan saat kami bersama Basarnas untuk dukungan SAR di lokasi,” ujarnya.
Sementara itu, seorang warga setempat yang turut membantu pencarian mengisahkan detik-detik kelam tersebut. “Ibu nenek dan tante korban sedang mencuci di pinggir, tidak jauh dari anak itu. Tiba-tiba air langsung bergolak dan anak itu hilang terseret ke tengah, semua kaget dan langsung berupaya menolong, tapi sudah terlambat,” tuturnya dengan nada prihatin.
Pantauan langsung wartawan Kunitik.com di lokasi kejadian hingga pukul 00.10 WITA dini hari menunjukkan, korban masih belum ditemukan.
Suasana duka menyelimuti keluarga yang terus menunggu di tepi sungai dengan harapan. Karena keterbatasan jarak pandang dan minimnya penerangan di area sungai yang gelap, tim gabungan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian sementara.
Operasi SAR direncanakan akan dilanjutkan kembali pada pagi hari setelah fajar menyingsing untuk memperluas area penyisiran.
Ini merupakan korban kedua dalam sepekan terakhir akibat serangan buaya di Sungai Budong-budong. Warga setempat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar aliran sungai yang diketahui menjadi habitat buaya muara.
Dalam proses pencarian, warga berhasil menangkap seekor buaya berukuran besar yang diduga pemangsa korban. (*jml/**)

