Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Barat, Sofian Rendy Ardiansyah, Memaparkan Pertumbuhan Ekonomi Sulbar Triwulan II 2026 Tumbuh 5,20 Persen
- account_circle Tim Media
- calendar_month Kam, 24 Sep 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar

Mamuju — Proclaimnews.id Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,20 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski tetap tumbuh positif, angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,35 persen, serta berada sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Barat, Sofian Rendy Ardiansyah, menjelaskan bahwa pola melambatnya laju ekonomi daerah pada pertengahan tahun ini merupakan hal yang wajar dan sejalan dengan tren nasional.
“Ketika masuk Triwulan II, memang terjadi penurunan dan itu make sense. Pada Triwulan I lalu kita melewati momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri yang mendongkrak konsumsi masyarakat secara signifikan. Begitu momen HBKN usai, konsumsi kembali ternormalisasi,” ujar Sofian saat memaparkan perkembangan ekonomi daerah dalam kegiatan Sipakada Media, Kamis 24 September 2026.
Perlambatan ekonomi Sulbar terutama bersumber dari tiga sektor utama di sisi lapangan usaha, yakni pertanian, industri pengolahan, serta perdagangan.
Sektor Pertanian yang menyumbang hampir separuh dari struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulbar hanya tumbuh 3,62 persen. Penurunan ini dipicu oleh melambatnya produksi kelapa sawit sebagai komoditas unggulan. Dampak dominonya langsung merembet ke Industri Pengolahan yang melambat ke angka 5,05 persen akibat minimnya pasokan Tandan Buah Segar (TBS) untuk olahan Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya.
Tak hanya perkebunan, sektor perikanan juga mengalami kontraksi. Selain kendala cuaca buruk dan gelombang tinggi yang memaksa nelayan melaut hingga 80 mil dari bibir pantai, Sofian mengungkapkan fenomena unik yang turut menekan produksi tangkapan ikan.
“Ketika masuk Triwulan II, masyarakat kita sempat mengalami euforia Piala Dunia. Usut punya usut, sebagian nelayan kita ternyata lebih memilih tidak melaut demi menonton tim sepak bola kesayangannya bertanding. Ini jadi salah satu faktor unik yang ikut menekan produksi perikanan di lapangan,” ungkap Sofian.
Kondisi pasokan ikan tangkapan yang berkurang ini pada akhirnya memicu kenaikan harga komoditas laut seperti ikan cakalang dan ikan kembung, yang tercatat menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Sulbar pada Agustus 2026 sebesar 0,11 persen.
Di tengah kelesuan sektor pertanian, ekonomi Sulbar terhindar dari penurunan yang lebih dalam berkat akselerasi di sektor konstruksi, administrasi pemerintahan, dan ekspor.
Sektor Konstruksi melonjak tajam hingga 12,90 persen (yoy), ditopang oleh realisasi belanja modal APBN untuk perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan seperti proyek pengerjaan jalan di jalur Mamuju–Majene kawasan Tapalang serta pembangunan gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Sementara itu, Sektor Administrasi Pemerintahan tumbuh 10,34 persen (yoy). Pencairan Gaji ke-13 bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, dan Polri terbukti menjadi bantalan ampuh dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah meredanya belanja rumah tangga pasca-Lebaran.
Dari sisi perdagangan luar negeri, kinerja ekspor Sulbar mampu melesat 11,51 persen (yoy). Meski volume produksi CPO lokal melambat, ketegangan geopolitik global justru memicu kenaikan harga CPO di pasar dunia. Berkah lonjakan harga global inilah yang mendongkrak nilai total ekspor Sulawesi Barat pada Triwulan II.
Guna memitigasi risiko ekonomi ke depan, Bank Indonesia mendorong penguatan produksi pertanian, kepastian pasokan bahan baku, serta keberlanjutan investasi infrastruktur.
Langkah penanganan harga dilakukan BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).
Hasilnya, inflasi tahunan Sulbar pada Agustus 2026 tetap stabil di angka 2,29 persen, jauh lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 3,19 persen.
Selain itu, untuk memperkuat ketahanan ekonomi dari akar rumput, BI Sulbar menggelar Mandarpreneur Fair 2026 pada 24–26 September 2026 di Maleo Town Square, Mamuju. Melalui wadah ini, BI mempertemukan UMKM lokal dengan akses pembiayaan syariah, fasilitas business matching senilai ratusan juta rupiah, hingga perluasan kerja sama(**)
- Penulis: Tim Media
- Editor: El.kml

Saat ini belum ada komentar