Arsal Aras menyampaikan bahwa esensi Kebangkitan Nasional yang merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 harus terus bergerak dinamis secara mutatis mutandisan tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Memasuki tahun 2026 ini, tantangan bangsa telah bergeser dari kedaulatan teritorial menuju kedaulatan informasi dan transformasi digital.

“ Kebangkitan berarti keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu ketidaktahuan dan ketertinggalan, ”ucapnya.

Pidato menteri yang dibacakan, lanjut Arsal Aras, menekankan bahwa dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, visi kemandirian bangsa diwujudkan secara konkret melalui delapan misi besar yang disebut Asta Cita. Program strategis seperti Program Makan Bergizi Gratis, pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda di wilayah afirmasi, hingga penguatan ekonomi desa lewat Koperasi Merah Putih menjadi pilar utama pembangunan kualitas manusia saat ini.

Lebih lanjut Arsal Aras, mengatakan tidak hanya pembangunan fisik dan ekonomi, negara juga menegaskan kehadirannya dalam melindungi generasi muda diruang siber melalui pemberlakuan penuh Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

“ Per 28 Maret 2026, pemerintah resmi menunda akses anak dibawah usia 16 tahun ke media sosial dan platform digital berisiko tinggi lainnya. Melalui kebijakan ini, kita memastikan bahwa tunas bangsa kita mengakses ruang digital yang sehat, beretika, dan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya, ”ujarnya.

Menutup upacara, momentum Harkitnas ke-118 ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh elemen masyarakat dan ASN di Kabupaten Mamuju Tengah untuk menyalakan kembali api semangat Boedi Oetomo melalui peningkatan literasi digital, penguatan solidaritas sosial, dan dedikasi penuh dalam pelayanan publik demi kemajuan bersama.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.(*)